Berita Kesehatan
Dahsatnya Letusan Gunung Krakatau Bisa Mempengaruhi Kesehatan Telinga
Kamis, 27 Des 2018 16:36:11

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda belakangan ini terus meningkat sehingga menimbulkan letusan yang terjadi secara terus menerus. Parahnya, hampir setiap hari letusan ini terjadi. Gelombang tsunami Selat Sunda yang menghantam Banten dan Lampung secara tiba-tiba pada Sabtu (22/12/2018) malam menelan banyak korban jiwa.


Setidaknya terdapat tiga wilayah yaitu Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan yang terkena dampak dari tsunami itu. Kerusakan fisik meliputi 611 unit rumah rusak, 69 unit hotel-vila rusak, 60 warung-toko rusak, dan 420 perahu dan kapal rusak.


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, ada dua peristiwa yang kemungkinan menjadi pemicu gelombang tsunami tersebut, yakni karena aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang tinggi karena cuaca di perairan Selat Sunda.


Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan masih mendalami apakah kaitannya gelombang itu dengan aktivitas anak Gunung Krakatau yang beberapa bulan terakhir menunjukan letusan-letusan kecil. Lebih dari 400 letusan kecil terjadi pada Gunung Anak Krakatau ini.


Gunung yang terletak di tengah laut atau yang berada di pinggir pantai seperti Gunung Anak Krakatau ini sewaktu-waktu sangat berpotensi menghasilkan volcanogenic tsunami. Gunung Anak Krakatau merupakan kaldera atau fitur vulkanik yang terbentuk akibat erupsi besar Gunung Krakatau pada abad ke-19.


Letusan Krakatau menjadi bencana paling dahsyat sepanjang sejarah

Aktivitas Gunung Krakatau pernah mengakibatkan efek yang luar biasa pada 1883. Ketika itu, gelombang tinggi akibat letusan menghempaskan wilayah Jawa bagian barat. Dilansir dari Kompas.com , awal dari bencana Gunung Krakatau diawali dari dentuman keras pada Mei 1883. Dentuman kerasnya terdengar selama beberapa jam di Batavia, Bogor, Purwakarta, Palembang, dan juga sampai di Singapura.


Dalam laporan buku kapal korvet Jerman "Elizabeth", terlihat asap setinggi 11 kilometer dan debu vulkanik yang larut dibawa angin sejauh 550 kilometer. Selain itu, ada juga insiyur penambang Belanda, Schuurman yang berhasil lolos dari dentuman pertama dari gunung di Selat Sunda. Dalam laporannya, pepohonan hangus terbakar dan meranggas.


Kapal-kapal pedagang dari Inggris dan Belanda yang melewati Selat Sunda itu juga terkena dampaknya. Sehingga, awak kapal harus menyelamatkan diri masing-masing. Puncak letusan Gunung Krakatau terjadi pada 27 Agustus 1883. Sebuah dentuman dahsyat menggelegar dari arah Selat Sunda, selat di antara Pulau Sumatra dan Jawa, disusul dengan semburan debu vulkanik setinggi 80 kilometer.


Pukul 10.20 pagi hari, Gunung Krakatau telah meletus. Letusan Krakatau terdengar ke timur sampai Australia Tengah, 3.300 kilometer dari titik ledakan, dan ke barat terdengar sampai Pulau Rodriguez, kepulauan di Samudera Hindia, 4.500 kilometer jauhnya dari Selat Sunda.


Semburan materi Gunung Krakatau berjatuhan menutupi daerah seluas 800.000 kilometer persegi. Selama tiga hari penuh Pulau Jawa dan Sumatera tertutup hujan abu. Suasana gelap gulita berlangsung siang dan malam, dan walaupun dengan penerangan obor dan lampu, jarak pandang hanya mencapai beberapa meter.


Lokasinya yang di tengah lautan, letusan Krakatau membawa bencana tsunami dan air bah menerjang pantai-pantai Teluk Betung, Lampung, serta pesisir Jawa Barat, dari Merak sampai Ujungkulon. Air laut naik sampai 30 meter menerjang dan menghancurkan desa-desa pantai. Sebuah kapal patroli "Berouw" terangkat dan ditemukan terbalik sekitar 2,5 kilometer masuk daratan.


Di Ujungkulon, air bah masuk sampai sekitar 15 kilometer ke arah darat. Taksiran kerugian manusia akibat ulah Krakatau 36.000 orang meninggal dunia. Selain itun gelombang raksasa juga terasa sampai ke San Fransisco, Afrika Selatan dan Kepulauan Aleut di Alaska.

Pesisir Jawa dan Sumatera didapati banyak batu setebal 3 meter dan mengganggu jalur pelayaran ketika itu. Gunung Perbuatan dan Danan lenyap dan bekasnya berupa kawah luas di bawah air. Gunung berapi yang memiliki panjang 7,4 kilometer tenggelam sekitar 275 kilometer dibawah permukaan laut. Sejak saat itu, gunung ini tak memberikan aktivitasnya yang berdampak seperti era 1883.


Suara dentuman letusan Krakatau membuat tuli

Suara dentuman yang diakibatkan oleh letusan Krakatau pana 1883 terdengar hingga radius lebih dari 4.300 km. Suara dhasyat itu pun terdnengar sepanjang Samudera Hindia, dari Pulau Rodriguez dan Sri Lanka Barat, serta Australia Timur.


Konon, inilah suara paling keras yang pernah terjadi di dunia sampai saat ini. Suaranya dinilai setara dengan 21.548 kali letusan bom atom. Siapapun yang berada dalam radius 10 km maka akan langsung tuli ketika mendengar dentuman dahsyat tersebut. The Guiness Book of Records pun mencatat bunyi ledakan Krakatau sebagai bunyi dalam hebat sepanjuang sejarah.