Berita Kesehatan
Kenapa Kasus Flu Zaman Dulu Bisa Mematikan, Tapi Sekarang Tidak?
Sabtu, 30 Nov 2019 11:48:19

Flu adalah penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza. Penyakit yang gejalanya bikin batuk, bersin, dan pilek ini sebetulnya cukup mudah diobati dengan minum obat. Namun tahukah Anda, sekitar seratus tahun lalu penyakit flu termasuk wabah mematikan yang menelan hingga ratusan ribu korban jiwa di berbagai belahan dunia? Apa yang membuat influenza dulu mematikan?

Sejarah kasus wabah flu di dunia

Di zaman sekarang ini, flu terbilang sebagai penyakit menular yang cukup ringan dan bisa cepat disembuhkan. Berbeda jauh dengan puluhan tahun lalu.

Catatan sejarah melaporkan ada tiga kasus wabah flu yang paling terkenal mematikan di dunia, dan terjadi di abad ke 20; yakni di tahun 1918, 1957, dan 1968. Ketiga kasus wabah influenza tersebut masing-masing dikenal sebagai flu Spanyol, flu Asia, dan flu Hongkong. Jika ditotal, angka kematian dari ketiga pandemik ini dapat mencapai 100 juta lebih jiwa.

Berikut kilasan baliknya:

1. Flu Spanyol tahun 1918

Flu Spanyol adalah salah satu wabah penyakit menular yang paling mematikan dalam sejarah dunia. Sampai saat ini awal mula terjadinya pandemik flu Spanyol masih diperdebatkan.

Namun, yang sudah pasti diketahui adalah flu Spanyol disebabkan oleh virus H1N1. Virus H1N1 itu sendiri merupakan subtipe dari virus influenza tipe A, yang menjadi cikal bakal wabah Flu Babi pada tahun 2009 silam.

Pandemik influenza di Spanyol yang terjadi di tahun 1918 dilaporkan menjangkit setidaknya 40 juta orang, dan hampir 100 juta orang tewas akibat virus ini. Uniknya, pemeriksaan postmortem pada waktu itu menemukan adanya tanda infeksi bakteri di paru-paru.

2. Flu Asia tahun 1950-an

Setelah sempat mewabah di Eropa tahun 1918, penyebaran kasus flu baru kembali marah pada tahun 1930 sampai tahun 1950-an di benua Asia.

Kali ini, masyarakat dunia dihadapkan oleh jenis virus influenza yang sepenuhnya baru dan sama sekali belum pernah diketahui asal-usulnya. Ilmuwan kemudian menyimpulkan bahwa jenis virus yang mendalangi wabah flu Asia adalah virus H2N2. Virus ini adalah spesies baru dari campuran virus yang berasal dari burung dan manusia. 

Keberadaan virus H2N2 pertama kali dilaporkan di Singapura pada Februari 1957, di Hongkong pada April 1957, dan di beberapa negara bagian Amerika Serikat pada musim panas 1957. Virus H2N2 kemudian digolongkan menjadi subtipe dari virus Influenza A.

Pada tahun 1957, kasus flu ini menewaskan hingga 2 juta orang di Asia.

3. Flu Hongkong tahun 1968

Pada tahun 1968, pandemik influenza baru muncul di kawasan Asia Tenggara dan Hong Kong. Pandemik 1968 diprakarsai oleh kemunculan virus yang dikenal sebagai subtipe influenza A H3N2 (juga disebut virus flu Hong Kong).

Virus ini diperkirakan berevolusi dari virus influenza H2N2 yang dahulu sempat merebak di Asia tahun 1957. Virus flu H2N2 diyakini oleh para ilmuwan mengalami mutasi genetik sehingga berubah menjadi H3N2.

Virus ini sifatnya sangat menular dan penyebarannya juga cepat. Itu kenapa dalam dua minggu setelah kemunculan kasus pertamanya, dilaporkan muncul sekitar 500.000 kasus penyakit baru di seluruh Asia Tenggara. Pada akhir Desember 1968, virus sudah menyebar ke benua Amerika, Australia, Jepang, beberapa negara di Afrika, Inggris, dan akhirnya Eropa Timur dan Barat.

Tercatat sekitar 1 sampai 4 juta orang di dunia tewas karena pandemi influenza pada tahun 1968.

Kenapa penyakit flu zaman dulu mudah mewabah dan mematikan?

Mengutip Center for Disease Control and Prevention (CDC), dulu influenza sulit disembuhkan karena para ilmuwan belum dapat menemukan penyebab pastinya sehingga sulit untuk menentukan tes apa yang bisa mendeteksi penyakit ini beserta obat penyembuh dan pencegahannya. 

Maka dari itu, tindak penanganan kasus influenza pada zaman dulu masih bersifat non-medis. Umumnya berupa pengobatan tradisional, pemakaian desinfektan, hingga isolasi atau karantina pasien dari ruang publik.

Dilansir dari Sydney Morning Herald, profesi Dominic Dowyer, seorang dokter ahli virus dan infeksi di University of Sydney, mengatakan bahwa sebetulnya flu bukanlah penyakit yang mematikan. Meski begitu, tindak pengobatan dan pencegahan yang kurang memadai di masa itulah yang menjadi salah satu faktor utama kenapa flu mudah menular dengan cepat sampai menyebabkan kematian. 

Secara umum, pengobatan untuk infeksi virus itu sendiri memang lebih sulit daripada infeksi bakteri karena ukuran virus sangat kecil dan mudah bereproduksi di dalam sel yang sehat. Virus akan menempel di suatu sel dan mengambil alih sel tersebut untuk mengembangbiakkan virus-virus lain sampai akhirnya sel tersebut mati.  

Flu yang tidak tertangani dengan tepayt rentan menyebabkan komplikasi berupa penyakit pneumonia. Saat terkena flu, saluran pernapasan akan menjadi lemah, virus dan bakteri lain jadi gampang masuk menginfeksi tubuh. Lalu, bakteri seperti Staphylococcus dan pneumococcus yang menyebabkan pneunomia dapat masuk dengan mudah ikut masuk ke paru-paru.

Bakteri pneumonia yang masuk ke paru-paru ini juga akan masuk ke aliran darah. Aliran darah akan tersebar ke seluruh tubuh, termasuk organ penting seperti ginjal dan jantung hingga menimbulkan kerusakan. Komplikasi flu akibat pneumonia ini dapat berakhir menyebabkan kegagalan organ penting yang berakhir pada kematian.  

Sekarang, influenza bisa diatasi dengan baik oleh dokter

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, ilmu kedokteran dan juga teknologi, kini pandemi flu bisa dicegah serta ditangani dengan lebih baik. 

Umumnya flu ringan saja dapat diatasi dengan istirahat, minum air yang cukup, dan minum obat pereda nyeri. Sedangkan flu yang sudah parah, dokter akan meresepkan obat-obatan sebagai antivirus dan antibakteri yang dapat langsung mengatasi penyebab infeksi.

Pandemi influenza sebetulnya juga dapat dicegah dengan cara melakukan vaksin, Vaksin  ini bisa membuat sistem kekebalan tubuh berkembang untuk melawan virus flu lebih kuat. Namun vaksin untuk mencegah wabah influenza ini harus dilakukan sekali dalam setahun, terutama untuk anak-anak, lansia, orang yang kekebalan tubuhnya lemah.