Berita Kesehatan
Abu Vulkanik dari Gunung Agung Bisa Menyebabkan Gejala Bronkitis
Jumat, 29 Sep 2017 17:26:34

Meningkatnya status Gunung Agung di Bali naik menjadi awas membuat penduduk di sekitar diharuskan untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Tempat pengungsian yang telah disiapkan tersebar lebih dari 370 titik.
"Data pengungsi yang telah tercatat Pusdalops BPBD Bali pada hari ini hingga pukul 12.00 Wita, ada sebanyak 75.673 jiwa yang tersebar di 377 titik pengungsian yang berada di 9 kabupaten/kota di Bali," ucap Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho kepada Panggung Berita.
Menurut dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Persahabatan, Prof Faisal Yunus, MD, PhD, mengungsi ke tempat yang lebih aman dan jauh dari paparan abu vulkanik dari gunung yang berstatus awas tersebut harus dilakukan supaya menghindari terkena penyakit saluran pernapasan.
"Yang paling parah adalah terkena bronkitis. Tergantung berapa lama dia menghirupnya, tergantung juga dosisnya, berapa lama, berapa banyak, berapa sering," ujarnya kepadaPanggung Beritadi Gedung Prof Sujudi Kementerian Kesehatan RI baru-baru ini.
Prof Faisal memperingatkan terutama kepada penduduk sekitar yang memang sebelumnya memiliki penyakit saluran pernapasan, seperti asma dan juga penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Kemungkinan risiko kambuhnya cukup tinggi.
"Tergantung kalau dia mempunyai penyakit saluran napas, sewaktu-waktu bisa kambuh, seberapa berat kenanya. Bagusnya dia mengungsi, jangan sampai kena debu vulkanik yang cukup besar," imbuhnya.
Namun situasi seperti ini akan berbeda pada setiap orang, karena daya tahan tubuh setiap orang tentunya berbeda-beda. Prof Faisal juga menganjurkan kalau setiap orang harus sadar akan bahaya dari paparan debu vulkanik tersebut.
"Kalau orang normal ya sampai mana dia bisa mentolerirnya. Setiap orang kan beda-beda. Ada faktor individual, orang harus sadar seberapa sensitifnya dia dari paparan debu. Kalau dia sensitif, maka dia harus menghindar lah," tutupnya.

1. Sinusitis
dr Syahrial mengatakan sinusitis merupakan komplikasi paling umum dari radang tenggorok yang terjadi karena infeksi, baik itu infeksi virus, bakteri ataupun jamur. Kuman-kuman tersebut menjalar ke rongga dinding sinus yang terletak di belakang tulang pipi dan dahi. Komplikasi sinusitis dapat menyebabkan pasien radang tenggorok mengalami gejala mirip flu seperti hidung tersumbat, keluar ingus, serta demam tinggi dengan suhu di atas 38 derajat Celcius. "Bisa juga membuat seseorang napasnya berbau tidak enak, pusing atau kehilangan kemampuan penciuman untuk sementara," ungkap dr Syahrial.
2. Hipertropi adenoid
Adenoid merupakan sekumpulan jaringan yang terletak di atas tonsil (amandel) dan berdekatan dengan kelenjar getah bening serta rongga tenggorok. Infeksi radang tenggorok bisa menyebar ke daerah ini dan menyebabkan adenoid mengalami pembesaran (hipertropi). Kondisi ini menyebabkan pasien biasanya mengalami gangguan pernapasan, hidung tersumbat hingga susah menelan. Meski begitu, hipertrofi akan membaik seiring membaiknya pula kondisi radang tenggorok.
3. Otitis media
Otitis media atau radang telinga tengah merupakan komplikasi yang menyerang telinga akibat kuman radang tenggorok masuk ke bagian telinga dalam. Radang telinga tengah mempunyai gejala yang mirip dengan infeksi virus influenza. Gejala awalnya adalah batuk, pilek, dan terjadi perubahan warna pada gendang telinga. Dalam struktur telinga, terdapat saluran kecil yang bernama tuba eustachius. Tuba ini menghubungkan bagian telinga tengah dengan nasofaring yang terletak di tenggorok bagian belakang dan hidung. Karena menghubungkan bagian tenggorok, hidung dan telinga, otomatis virus yang sedang menyerang tenggorok bisa masuk ke telinga. Demikian juga sebaliknya, virus yang sedang menyerang telinga bisa masuk ke tenggorok dan hidung lewat saluran tuba ini.
4. Abses tenggorok dan leher
Abses tenggorok dan leher merupakan salah satu komplikasi serius akibat radang tenggorok kronis. Radang tenggorok kronis menyebabkan rongga di bagian tenggorok melebar. Akibatnya, sisa makanan yang tidak dibersihkan dengan baik bisa menempel di rongga-rongga tersebut dan menjadi sarang kuman dan bakteri. Hal ini bisa dilihat dengan adanya bercak-bercak putih dan lendir (detritus) di bagian dalam tenggorok."Kalau radang tenggorok dan napasnya bau, ada lendir putih mirip nanah, itu tandanya sudah komplikasi serius, namanya abses tenggorok atau abses leher dalam. Biasanya juga disertai dengan pembengkakan di leher," tuturnya.Penyakit ini membutuhkan pengobatan antibiotik dan rawat inap. Antibiotik bisa diberikan dengan infus dan benjolan (pulpa) yang berisi nanah akan dipecahkan dengan jarum.