Berita Kesehatan
Kesehatan Gigi Pengaruhi Prestasi Belajar Anak
Selasa, 03 Okt 2017 13:34:13

Kondisi kesehatan gigi yang kurang baik dapat memengaruhi prestasi belajar anak. Ketika anak mengalami masalah pada gigi dan mulutnya, tentu anak akan kurang berkonsentrasi dalam belajar.


Head of Profesional Relationship Oral Care PT Unilever Indonesia, drg Ratu Mirah Afifah, GCClinDent MDSc, mengatakan, kondisi kesehatan gigi dan mulut dapat berpengaruh pada prestasi akademis yang dilihat dari nilai matematika. Gigi berlubang tidak hanya membuat anak mengalami rasa sakit, tapi juga akan memengaruhi kehadiran anak di sekolah.


Adanya plak pada gigi merupakan masalah yang umumnya terjadi pada kondisi gigi dan mulut. Ia menjelaskan, plak merupakan penyebab masalah utama di rongga mulut, yaitu gigi berlubang dan penyakit gusi. Dalam hal ini, penurunan jumlah plak sangat penting untuk mendapatkan kesehatan rongga mulut yang baik.


Jika dibandingkan dengan kasus di beberapa negara lainnya, di Filipina, misalnya, sakit gigi merupakan alasan yang paling umum penyebab ketidakhadiran anak di sekolah. Sementara data pada 2008 di Thailand, diketahui 1.900 jam hilang per 1.000 anak disebabkan masalah gigi dan penanganan pada gigi mereka. Di negara maju, seperti Amerika Serikat berdasarkan USHHS 2000, lebih dari 51 juta jam waktu sekolah hilang setiap tahunnya disebabkan gangguan kesehatan gigi.


Melihat dari data tersebut, maka edukasi akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak dini sangat penting dilakukan. Sekolah, kata Mirah, menjadi lingkungan yang tepat untuk anak memulai kebiasaan baik. Hal itu bisa dilakukan melalui unit kesehatan dan unit kesehatan gigi sekolah yang berperan aktif dalam mengedukasi anak-anak.


"Ayo, bantu anak-anak Indonesia agar dapat meningkatkan prestasi di sekolah dan di luar sekolah tanpa adanya gangguan kesehatan gigi," paparnya.


Karena itu, Pepsodent bekerja sama dengan Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Kedokteran Gigi Pencegahan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, melakukan penelitian kepada sekitar 539 anak usia 6-7 tahun dan 445 anak usia 10-11 tahun di tiga sekolah dasar di Bekasi, Jawa Barat. Penelitian dilakukan dengan mengadakan kuesioner dan pemeriksaan gigi dan mulut.


Dalam penelitian memperlihatkan, 94 persen anak usia 6-7 tahun dan 82 persen anak usia 10-11 tahun memiliki satu gigi berlubang. Padahal, gigi berlubang jika dibiarkan dapat menyebabkan sakit gigi. Hal itu dilihat dari adanya lebih dari 50 persen anak tersebut memiliki pengalaman sakit gigi dalam 12 bulan terakhir. Sementara itu, 49 persen anak (6-7 tahun) dan 38 persen (anak usia 10-11 tahun) memiliki plak pada saat pemeriksaan klinis.


Berdasarkan penelitian tersebut, memperlihatkan bahwa siswa yang sering sakit gigi cenderung lebih banyak absen dari sekolah yang akhirnya berpengaruh pada prestasi belajar.

Setelah adanya intervensi, kata dia, terjadi penurunan jumlah plak secara signifikan sebanyak 54 persen (usia 6-7 tahun) dan 66 persen (usia 10-11 tahun). Kebiasaan orang tua menyikat gigi kurang dari dua kali sehari sebelum intervensi dilakukan ialah 34 persen. Sementara setelah dilakukan intervensi, menurun menjadi 10 persen.