Berita Kesehatan
Waspada Bahaya Kanker THT, Kepala, dan Leher
Kamis, 05 Apr 2018 14:39:59

Otolaringologi adalah cabang ilmu kedokteran yang khusus meneliti diagnosis dan pengobatan penyakit seputar telinga, hidung, dan tenggorokan serta kepala dan leher. Di Indonesia, cabang kedokteran ini populer dengan nama ilmu telinga hidung tenggorokan bedah kepala leher atau THT-KL.

Penyakit kanker yang berkaitan dengan THT-KL cukup banyak dan mungkin tidak terlalu awam di telinga. Sebut saja kanker nasofaring, kanker sinus paranasal (sinonasal), kanker pita suara (laring), kanker rongga mulut, limfoma, dan tiroid.

Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan-Kepala dan Leher, Konsultan Siloam MRCCC Siloam Hospitals Semanggi dr. Marlinda Adham, Sp THT-KL(K), PhD mengatakan, kasus kanker nasofaring lebih sering dijumpai dibandingkan jenis-jenis kanker THT, kepala, dan leher lainnya. Prevalensi kanker nasofaring di Indonesia adalah 6,2/100.000 penduduk, dengan hampir sekitar 13.000 kasus baru/tahun.

“Urgensi kanker THT, kepala, dan leher adalah kanker ini belum cukup dikenal dan gejalanya sulit dideteksi oleh orang awam, misalnya kanker nasofaring. Kanker nasofaring adalah kanker yang muncul pada area di belakang hidung di atas tenggorokan. Gejalanya tak jauh berbeda seperti infeksi saluran napas atas. Hidung tersumbat dan telinga terasa penuh pada satu sisi. Bahkan, adanya lendir bercampur darah umumnya justru dianggap serangan alergi biasa,” ujar dr Marlinda Adham, Sp THT-KL(K), PhD.

Ketidaktahuan informasi menyebabkan pasien terlambat memeriksakan diri kepada dokter. Pasien yang datang biasanya sudah stadium lanjut. Mereka berkonsultasi ketika mulai menyadari adanya benjolan pada leher. Kondisi ini dapat makin mempersulit proses terapi. Oleh karena itu, pasien sangat disarankan melakukan deteksi dini.

Umumnya, kanker nasofaring lebih banyak menyerang usia produktif (40–60 tahun) dan memiliki beberapa faktor risiko. Antara lain, gender dengan angka perempuan umumnya lebih banyak terserang kanker nasofaring, kebiasaan mengonsumsi makanan yang diawetkan, infeksi virus Epstein-Barr, kebiasaan merokok, serta minum alkohol. Riwayat keluarga juga memperbesar seseorang terkena kanker nasofaring sehingga sangat disarankan bagi seseorang yang memiliki faktor risiko tersebut agar dapat memonitor kesehatannya dan rutin melakukan deteksi dini.

Diagnosis dan penanganan

Jika mengalami gejala salah satu kanker THT-KL dan terpapar faktor risiko dalam rentang waktu lama secara terus-menerus, Anda harus waspada. Segeralah berkonsultasi kepada dokter agar dapat mengetahui kondisi dan tingkat stadium. Langkah awal diagnosis adalah anamnesis, yaitu mengetahui gejala yang tampak dan dirasakan pasien. Selanjutnya, bila diperlukan akan dilakukan pemeriksaan radiologi, misal menggunakan USG, CT Scan, atau Magnetic Resonance Imaging (MRI).

Pemeriksaan juga bisa dibantu dengan teknologi unggulan dari MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, yakni Positron Emission Tomography (PET) Scan. Alat ini menggunakan kombinasi penggunaan radiofarmaka dan sinar X dosis rendah (low dose) yang nantinya menghasilkan citra 3D dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dengan memanfaatkan PET Scan, lokasi sumber kanker dalam tubuh dapat terdeteksi. Tidak menutup ke­mung­kinan pula, PET Scan digunakan pada pascaoperasi untuk melihat ke­mungkinan penyebaran kanker sekaligus melihat dampak baik-buruknya terapi.

Tahap berikutnya, dokter akan melakukan biopsi untuk pemeriksaan patologi anatomik. Menurut dr. Marlinda saat ini masih sering menemui persepsi keliru. Pasien merasa takut dibiopsi karena menganggap bahwa kanker akan makin menjalar. Nyatanya, kondisi itu bisa terjadi jika pasien tidak melakukan tindak lanjut segera. Setelah biopsi, memang seharusnya ada tindak lanjut untuk segera dilakukan terapi dengan tujuan meminimalkan risiko penyebaran.

Selain itu, dr. Marlinda juga menegaskan, “Penatalaksanaan kanker tidak dapat dilakukan hanya dengan satu cara. Bisa dilakukan dengan operasi, radioterapi, kemoterapi, atau cara kombinasi, tergantung jenis kanker dan stadium kanker. Tim dokter onkologi pun harus berkoordinasi dengan tim gizi, terutama untuk menangani pasien yang sedang menjalani terapi. Bagaimanapun, kami harus memastikan kondisi pasien tetap baik terutama asupan gizi agar siap menjalani terapi hingga selesai.”

Dokter onkologi juga bekerja sama dengan spesialis penyakit dalam, radioterapi, hematologi onkologi, psikiater atau psikolog, rehabilitasi medis, dokter gigi, paliatif serta bedah plastik. Pemantauan setelah rangkaian terapi selesai pun harus dilakukan. Setidaknya, pada tahun pertama, pasien wajib memeriksakan diri kembali setiap 3 bulan untuk konsultasi dan evaluasi.

Oncology Center

MRCCC Siloam Hospitals Semanggi yang berlokasi di Karet Semanggi, Jakarta Selatan memiliki oncology center yang berkembang pesat menjadi pusat onkologi yang komprehensif. Terdiri dari para dokter spesialis onkologi yang berpengalaman dengan masing-masing keahlian subspesialis. Tim dokter pun berada dalam satu gedung sehingga pasien tidak perlu berpindah-pindah rumah sakit demi mendapatkan penanganan optimal.

Pelayanan yang terintegrasi se­ma­kin lengkap didukung dengan layanan paliatif bagi penderita kanker stadium terminal. Pihak rumah sakit memberikan dukungan pada penderita kanker berupa motivasi yang datang dari sisi psikologis dan spiritual. Pasien juga dapat bergabung di dalam grup para survivor kanker yang dapat saling memberikan dukungan. Layanan terbaik diberikan oleh MRCCC Siloam Hospitals Semanggi agar pasien mendapatkan kembali kehidupan yang berkualitas.