Berita Kesehatan
Trauma Gigi: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan
Selasa, 18 Jan 2022 09:08:07

Trauma gigi merupakan kondisi cedera fisik di sekitar gigi dan mulut. Jika terjadi kondisi ini, maka perlu segera ditangani. Apa saja gejala, faktor risiko, dan cara mengatasi trauma gigi atau dental trauma?

Apa itu trauma gigi?

Seperti telah disebutkan sebelumnya, trauma gigi adalah timbulnya kondisi cedera fisik pada gigi, gusi, tulang alveolar (tulang rahang yang menahan gigi), dan jaringan lunak mulut, termasuk bibir dan lidah. Kondisi ini juga sering disebut sebagai dental trauma. Selain itu, apabila Anda mengalami kondisi ini biasanya akan sangat menyakitkan dan harus mendapatkan penanganan segera.

Kondisi paling umum dari kondisi ini adalah gigi patah atau hilang. Hal ini juga biasanya dibarengi dengan luka dan berdarah pada jaringan lunak, seperti gigi dan gusi.

Namun, secara umum trauma gigi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis sebagai berikut ini.

  • Gigi patah (fracture). Kondisi ini terbagi dua, yakni fraktur superfisial dan fraktur serius. Fraktur superfisial hanya memengaruhi bagian email atau lapisan terluar pada mahkota gigi. Sementara, fraktur serius terjadi bila ikut memegaruhi bagian gigi dalam seperti dentin dan pulpa sehingga perlu penanganan segera untuk mencegah infeksi bakteri.
  • Gigi berpindah tempat (displacement). Cedera parah bisa menggeser posisi gigi sehingga lebih longgar, tenggelam ke dalam gusi, atau bergeser ke samping. Dalam kondisi lebih parah, gigi bisa terdorong ke luar atau mematahkan tulang pendukungnya. Hal ini adalah kondisi darurat yang membutuhkan penanganan segera.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Menurut sebuah penelitian pada tahun 2019, trauma gigi memengaruhi 1-3% populasi, termasuk anak-anak dan remaja. Jika mengalaminya, segera kunjungi dokter gigi untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Pada beberapa kondisi, dokter masih bisa mengembalikan gigi kembali seperti tampilan awalnya.

Apa saja tanda-tanda dan gejala trauma gigi?

Anda mungkin akan langsung menyadari trauma gigi apabila terdapat bagian gigi yang patah, berpindah tempat, atau tanggal sepenuhnya. Timbulnya perdarahan pada jaringan lunak pada mulut, seperti bibir, lidah, dan gusi juga menjadi pertanda adanya luka pada gigi.

Beberapa tanda dan gejala lainnya yang bisa Anda rasakan saat mengalami trauma gigi, antara lain seperti di bawah ini.

  • Nyeri gigi yang mungkin berdenyut tajam, atau konstan. Pada beberapa orang, rasa nyeri hanya terjadi ketika adanya tekanan pada gigi.
  • Bengkak di sekitar gigi.
  • Demam atau sakit kepala.
  • Rasa yang buruk dari gigi yang terinfeksi.

Kapan sebaiknya harus periksa ke dokter?

Trauma gigi umumnya termasuk kondisi serius yang perlu Anda perhatikan. Kondisi ini membutuhkan penanganan segera dari dokter gigi jika Anda mengalami hal-hal, seperti:

  • gigi permanen terdorong keluar,
  • sebagian besar gigi terpotong,
  • terlihat titik merah pada gigi yang retak,
  • rasa nyeri parah,
  • perdarahan tidak berhenti setelah 10 menit tekanan langsung (untuk perdarahan karena gigi yang hilang, gigit kain kasa), dan
  • gigi terdorong keluar dari posisi aslinya.

Beberapa orang juga mungkin mengalami trauma gigi ringan, berupa retakan atau patahan kecil saja. Namun, kondisi ini tetap perlu Anda periksakan ke dokter gigi, apabila:

  • gigi bayi telah terdorong keluar,
  • sebagian kecil gigi lepas,
  • garis retak pada gigi,
  • gigi cenderung lebih longgar,
  • muncul gejala baru,
  • gigi sensitif terhadap cairan panas atau dingin selama minggu berikutnya, dan
  • gigi berwarna lebih gelap.
  • Jika Anda memiliki tanda atau gejala tersebut maupun pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan Anda.

    Apa saja penyebab trauma gigi?

    Sebagian besar kasus trauma gigiyang Anda alami disebabkan oleh kecelakaan atau tabrakan yang berdampak langsung pada bagian mulut, dagu, atau wajah Anda secara keseluruhan. Beberapa kondisi kecelakaan tersebut meliputi:

    • terjatuh akibat kontak fisik saat berolahraga,
    • kecelakaan kendaraan bermotor,
    • insiden kekerasan, seperti perkelahian atau penganiayaan fisik, dan
    • makan makanan keras atau minum cairan panas.

    Apa yang meningkatkan risiko trauma gigi?

    Kecelakaan yang menjadi penyebab utama trauma tentu tidak bisa Anda hindari. Namun, beberapa kondisi dan masalah gigi yang Anda alami bisa meningkatkan risiko trauma gigi yang lebih parah, seperti:

    • gigi berlubang (karies),
    • menjalani prosedur tambal gigi,
    • menjalani perawatan saluran akar gigi (root canal treatment), dan
    • memiliki kebiasaan mengencangkan rahang atau menggemeretakkan gigi (bruxism).

    Apa saja pilihan pengobatan untuk trauma gigi?

    Waspada apabila Anda mengalami kecelakaan atau tabrakan yang memengaruhi bagian wajah, seperti mulut dan dagu yang bisa menyebabkan trauma gigi. Beberapa langkah pengobatan untuk mengatasi masalah kesehatan gigi ini antara lain sebagai berikut.

    1. Pertolongan pertama

    Walaupun gigi utama pada anak-anak umumnya sulit dipasang ulang, namun gigi permanen pada orang dewasa perlu dikembalikan ke tempatnya sesegera mungkin. Hasil terbaik terjadi jika gigi Anda terpasang ulang dalam kurun waktu 15 menit. Setelah lewat 2 jam, penempatan kembali gigi tidak akan bermanfaat.

    Idealnya, pertolongan pertama untuk mengembalikan gigi kembali pada tempatnya yakni sesaat setelah terjadi kecelakaan Anda dapat melakukannya dengan beberapa panduan berikut ini.

    • Temukan gigi yang tanggal atau patah, lalu bersihkan gigi dengan air liur atau air bersih.
    • Letakkan kembali pada tempatnya tanpa menyentuh bagian akarnya. Tekan mahkota gigi dengan ibu jari Anda sampai puncak gigi sama dengan gigi lainnya.
    • Gigit kain untuk menstabilkan gigi sampai Anda tiba di tempat dokter gigi. Kompres dingin pipi Anda untuk menghilangkan rasa sakit dan bengkak.
    • Jika gigi patah atau tidak bisa dikembalikan ke tempatnya, Anda bisa meletakkannya dalam wadah berisi susu dingin atau air liur sambil membawanya ke dokter gigi.
    • Pada anak-anak dengan gigi utama tanggal, Anda dapat mencoba menahan bagian gigi yang tanggal dengan menggigit kain kasa untuk melindungi jaringan sekitarnya.

    2. Prosedur medis

    Dokter gigi biasanya akan melakukan prosedur splinting, yakni teknik yang digunakan untuk menstabilkan gigi yang terkena trauma dan longgar dengan merekatkannya dengan gigi lain. Prosedur ini biasanya berlangsung selama beberapa minggu dan setelahnya dokter mungkin akan merekomendasikan Anda untuk melakukan perawatan saluran akar.

    Jika melakukan pengobatan 30 hingga 40 menit setelah terjadi kecelakaan, maka masih ada kesempatan untuk menyelamatkan gigi Anda. Namun, lebih lama dari ini tentu peluangnya akan berkurang drastis, sehingga mungkin perlu menggantinya dengan gigi palsu.

    Beberapa prosedur medis lain untuk mengobati trauma gigi, seperti tambal gigi, pemasangan crown gigi, hingga cabut gigi sesuai tingkat keparahan dan kondisi yang Anda alami.

    3. Perawatan di rumah

    Setelahnya, Anda bisa langsung kembali ke rumah. Apabila masih terasa sakit dan nyeri pada gigi, dokter akan memberikan resep obat pereda nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen. Sebaiknya makan makanan lembut sambil menunggu perawatan lanjutan ke dokter gigi.

    Apa saja tes yang umum dilakukan untuk diagnosis kondisi ini?

    Dokter gigi terlebih dahulu melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan kondisi kesehatan Anda setelah mengalami trauma gigi. Selain itu, dokter juga akan melakukan serangkaian tes untuk mendiagnosis kondisi ini, seperti:

    • pemeriksaan gigi oleh dokter gigi atau ahli bedah maksilofasial,
    • rontgen gigi untuk mengetahui tingkat kerusakan pada gigi yang patah, dan
    • rontgen rahang bawah untuk mendiagnosis patah rahang.

    Apa saja langkah pencegahan agar terhindar dari kondisi trauma gigi?

    Beberapa perubahan gaya hidup yang dapat membantu Anda mencegah dan meminimalkan risiko kecelakaan yang menyebabkan trauma gigi sebagai berikut ini.

    • Selalu gunakan sabuk pengaman saat berkendara untuk melindungi dari cedera saat terjadi kecelakaan. Anak kecil juga harus diamankan pada kursi mobil yang sesuai.
    • Memakai pelindung mulut (mouthguard) bagi atlet yang mengikuti olahraga kontak, seperti sepak bola, gulat, atau tinju. Beberapa olahraga non-kontak, seperti skateboard, inline skate, dan bersepeda juga memerlukannya karena risiko kecelakaan yang tinggi.
    • Perhatikan bagian rumah yang bisa menimbulkan bahaya tersandung dan tergelincir yang meningkatkan risiko trauma atau cedera.
    • Selalu perhatikan aktivitas balita dan anak-anak selama di rumah, seperti menggunakan pengaman tangga, bantalan pada tepi meja yang tajam, dan peletakkan kabel listrik.

    Selain beberapa tips tersebut, Anda sebaiknya juga rutin melakukan pemeriksaan gigi ke dokter gigi setiap enam bulan sekali. Hal ini bertujuan untuk mengetahui dan memperbaiki berbagai gangguan kesehatan gigi yang bisa meningkatkan risiko trauma gigi.

    Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

    Berita Kesehatan Lainnya