Berita Kesehatan
Penyebab Tuli Mendadak & Pencegahannya
Senin, 19 Nov 2018 13:33:27

Aktris Olla Ramlan baru-baru ini mengatakan kehilangan pendengaran pada telinga sebelah kanan. Diakui olehnya, kehilangan pendengaran mendadak itu terjadi sejak tahun 2003 saat dirinya masih aktif melakukan olahraga bela diri.

Menurut Dr. Mahatma T. Bawono, Sp.THT-KL, M.Sc. dari Rumah Sakit Akademik Yogyakarta, benturan keras pada kepala berisiko membuat cidera telinga bagian dalam.

"Bisa karena benturan ke telinga atau tulang telinganya pernah patah. Karena benturan udara juga bisa. Jadi seperti kena tepukan di telinga tapi tak sampai menyebabkan tulang cedera, dan udaranya hanya melubangi gendang telinga," ujarnya dinukil detikhealth.


Kondisi tuli mendadak atau dalam medis dikenal dengan istilah Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSHL) ini terjadi karena ada gangguan organ sensorik telinga bagian dalam. Tuli mendadak juga sering hanya terjadi pada satu telinga.

Ahli memperkirakan enam dari 5.000 orang, setiap tahun menderita gangguan ini. Namun angka itu dikhawatirkan lebih besar, sebab banyak orang yang enggan melaporkan kondisi ini dan mencari pertolongan dokter.

Dalam catatan US National Library of Medicine National Institutes of Health, ada setidaknya 66 ribu warga Amerika Serikat (AS) yang menderita gangguan ini.

Tuli mendadak juga dapat terjadi pada orang segala usia. Terutama orang dewasa dengan usia 40-50 tahun.

Infeksi dan radang, cedera kepala, melemahnya kekebalan tubuh, masalah sirkulasi darah dan saraf dikaitkan dengan keadaan tuli mendadak.

Gejala yang menyertai kondisi tuli mendadak biasanya adalah perasaan telinga selalu tersumbat, pusing, dan atau sering mendengar suara dengung di telinga mereka, seperti gejala tinnitus.

Tinnitus adalah suara denging di telinga, tetapi juga dapat terdengar seperti suara menderu, mengeklik, mendesis, atau berdengung.

Ada beberapa kondisi yang juga dikaitkan dengan tuli sebagian dan total. Misal, penumpukan cairan di belakang gendang telinga, lubang di gendang telinga, dan masalah dengan tulang telinga bagian tengah.

Tuli mendadak juga dikaitkan dengan sakit diabetes, "Gangguan sirkulasi darah membuat kekurangan oksigen pada bagian koklea di telinga dalam, yang akhirnya menimbulkan kerusakan permanen pada saraf-saraf pendengaran di telinga dalam," terang Armelia AR, dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) dinukil MediaIndonesia.com.

Penelitian menunjukkan pasien diabetes dengan kadar gula per tiga bulan (HbA1C) lebih besar daripada delapan persen, maka dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun, prevalensi tuli sarafnya mencapai 85 persen.

Dalam kasus yang jarang terjadi, tumor pada otak juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran.

Dinukil Vox, Aaron Remenschneider, dokter dan peneliti di Massachusetts Eye and Ear mengatakan bila dokter mengetahui gejala penyakit ini lebih awal, maka besar kemungkinan untuk dapat mengembalikan pendengaran para penderita.

Sayang, kebanyakan orang tidak menganggap masalah pada telinga ini mendesak dan pergi berminggu-minggu kemudian untuk mencari pertolongan dokter jika akhirnya merasa terganggu.

Bahkan, Dr. Elliot Kozin, Kepala Department of Otolaryngology di Harvard Medical School, menegaskan para dokter lebih khawatir jika menderita sakit dan nyeri pada dada, lalu bergegas pergi ke ruang gawat darurat.

Sementara dalam kasus gangguan pada telinga, diagnosis biasanya akan mengejutkan karena pasien tidak tahu hal semacam itu ternyata ada.

Untuk mengetahui fungsi telinga masih berjalan normal, Anda dapat melakukan tes sederhana. Coba tutup kedua telinga dengan tangan lalu bergumam atau bicara normal.

Jika Anda mendengar suara terdengar lebih keras, maka fungsi telinga masih normal. Namun, jika suara terdengar keras meski kondisi telinga tidak ditutup, maka sebaiknya segera pergi ke dokter.

Untuk menghindari kondisi ini, kurangi mendengarkan musik melalui pelantang telinga (earphone atau headphone).

Agar telinga tetap sehat, gunakan rumus 60 per 60, seperti ditegaskan oleh dr Damayanti Soetjipto, Ketua Komnas Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT), dinukil Brilio.net.

"Jadi volumenya maksimal 60 untuk kiri dan kanan. Pilih juga earphone yang memiliki peredam kebisingan dan ingat, batas maksimal mendengarkan musik lewat earphone itu satu jam per hari," tutur dr Dama.

Lebih lanjut dr Dama menuturkan, kebiasaan menggunakan pelantang telinga saat akan tidur juga memicu rusaknya sel rambut halus di dalam telinga.

"Kalau tidur otak istirahat, tapi gendang telinga dan sel rambutnya terpapar suara keras terus-menerus dari earphone. Lama-lama nanti sel rambutnya bisa rontok dan akhirnya mengalami gangguan pendengaran," pungkasnya.