Layanan THT

Endoskopi Nasofaring

Apa itu Endoskopi Nasofaring?


Endoskopi nasofaring, juga dikenal dengan istilah nasofaringoskopi, adalah prosedur medis yang melibatkan pemeriksaan permukaan dalam hidung dan tenggorokan, atau nasofaring.


Prosedur ini bisa dilakukan oleh dokter THT atau spesialis otolaringologi dengan memasukkan alat terbuat dari fiber optik yang tipis dan fleksibel melalui hidung hingga ke nostril. Alat ini disebut nasofaringoskop.


Endoskop yang digunakan pada prosedur ini adalah tabung tipis dengan lensa kamera dan sumber cahaya agar gambar yang dihasilkan jelas, saat alat tersebut melewati nostril hingga ke bagian nasofaring yang lebih dalam. Beberapa alat nasofaringoskop juga dilengkap dengan fitur sedot dan gunting tang yang dapat digunakan untuk membersihkan rongga sinur dan melakukan biopsi (pengambilan jaringan) saat dibutuhkan.


Prosedur ini memakan waktu beberapa menit dan biasanya dilakukan sebagai prosedur rawat jalan. Kadang, bius lokal digunakan untuk meminimalisir rasa tidak nyaman. Sementara pada pasien anak akan diberikan obat penenang sebelum prosedur dilakukan.

Nasofaring endoskopi adalah diagnosa medis yang dilakukan untuk mendeteksi dan mendiagnosa kelainan pada bagian nasofaring.


Siapa yang Perlu Menjalani Endoskopi Nasofaring dan Hasil yang Diharapkan


Nasofaringoskopi memungkinkan dokter THT atau spesialis otolaringologi untuk mengevalusasi mukosa hidung, sinonasal anatomi, dan patologi hidung. Biasanya direkomendasikan sebagai metode awal untuk meninjau kondisi pasien yang menunjukkan gejala-gejala berikut:


1. Hidung terasa penuh
2. Sinus kronis
3. Polip hidung atau pertumbuhan abnormal lainnya pada hidung
4. Tumor atau yang diduga kanker pada hidung, tenggorokan, dan pita suara
5. Hidung tersumbat
6. Epitaksis (mimisan yang tidak normal atau terus-terusan terjadi)
7. Masalah saat berbicara (dysphonia)
8. Apnea tidur obstruktif
9. Masalah saat menelan (dysphagia)

Endoskopi sering digunakan juga untuk memantau perkembangan pasien pasca bedah nasofaring dan melihat seberapa efektif terapi antibiotik yang diberikan. Untuk pasien kanker, endoskopi dapat dilakukan secara rutin untuk menilai keefektifan kemoterapi dalam menghilangkan tumor pada nasofaring. Banyak dokter bedah menggunakan endoskop sebelum melakukan prosedur pembedahan, misalnya rekonstruksi langit-langit mulut sumbing untuk meninjau resiko potensialnya.


Cara Kerja Endoskopi Nasofaring


Sebelum prosedur dilakukan, bius lokal akan disemprotkan ke rongga hidung atau pasien diminta mengonsumsi permen untuk mencegah rasa tidak nyaman dan gerakan refleks muntah. Jika endoskopi akan dilanjutkan menjadi biopsi, hidung biasanya disumbat dengan kapas yang telah direndam dalam obat bius.


Setelah obat biusnya bekerja, dokter akan memulai prosedur dengan mengarahkan ujung nasofaringoskop melalui nostril. Setelah ujungnya mencapai rongga hidung, dokter bisa melihat apakah ada abnormalitas dan melakukan observasi. Alat ini dilengkapi dengan sistem pencahayaan juga kamera, sehingga dokter dapat mengamati saluran udara hidung melalui monitor.


Lalu, skop-nya diarahkan ke tenggorokan hingga laring. Untuk memeriksa pita suara, biasanya pasien diminta untuk berbicara. Sambil menarik skop perlahan, dokter akan terus memeriksan nasofaring. Jika abnormalitas terdeteksi, dokter akan mengambil gambarnya untuk dianalisa lebih lanjut.


Selama endoskopi dilakukan, dokter perlu memeriksa tanda-tanda fisik berikut: lokasi pendarahan hidung, pembengkakan pada membran mukus, pembesaran turbinat hidung, septum hidung bengkok, adanya polip atau tumor, serta adanya nanah yang mengalir dari rongga sinus. Jika ada polip, tumor, atau pembentukan masa pada nasofaring, biopsi perlu dilakukan untuk mendapatkan contoh jaringan yang nantinya akan dianalisa oleh spesialis patologi untuk melihat keganasannya.


Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Endoskopi Nasofaring


Endoskopi nasofaring memungkinkan spesialis THT untuk mendapatkan visualisasi struktur pada saluran pernapasan. Meskipun prosedur ini cepat dan minimal invasif, masih ada beberapa resiko terkait. Di antaranya laserasi dan pendarahan, muntah, dan gagalnya sistem pernapasan. Namun, hal-hal tersebut dapat dihindari, jika dilakukan oleh dokter berpengalaman.


Meskipun tidak ada kontraindikasi. Perawatan ekstra perlu diberikan pada mereka yang memiliki riwayat gangguan pendarahan atau mereka yang mengonsumsi antikoagulan, untuk memastikan tidak terjadi pendarahan. Selain itu, pasien dengan penyakit kardiovaskular biasanya diminta berkonsultasi dengan spesialis THT, sebelum menjalani prosedur agar langkah-langkah pencegahan bisa dilakukan.


Rujukan:

1. Bentsianov BL, Parhiscar A, Azer M, Har-El G. The role of fiberoptic nasopharyngoscopy in the management of the acute airway in angioneurotic edema. Laryngoscope. 2000 Dec. 110(12):2016-9.
2. Choy AT, Gluckman PG, Tong MC, et al. Flexible nasopharyngoscopy for fish bone removal from the pharynx. J Laryngol Otol. 1992 Aug. 106(8):709-11.