
Tuberkulosis (TBC) disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini menyebar melalui udara ketika seseorang menghirup percikan ludah (droplet) saat penderita TBC batuk, berbicara, bersin, tertawa, atau bernyanyi. Ketika droplet tersebut terhirup oleh orang lain, bakteri dapat masuk ke saluran pernapasan dan berkembang biak.
Pada sebagian orang, sistem kekebalan tubuh mampu menahan perkembangan bakteri, sehingga infeksi tidak menimbulkan gejala dan berada dalam kondisi TBC laten. Namun, jika daya tahan tubuh menurun, bakteri dapat berkembang menjadi TBC aktif yang kemudian bisa menyebabkan berbagai gejala, seperti batuk berkepanjangan, demam, dan penurunan berat badan.
Meski demikian, penularan TBC membutuhkan kontak yang cukup dekat dan cukup lama dengan penderita. Makin lama seseorang berinteraksi dengan penderita TBC, makin tinggi pula risikonya tertular. Oleh sebab itu, penularan lebih sering terjadi pada anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TBC.
Pada penderita TBC yang tidak mengalami gejala (TBC laten), bakteri TBC tetap tinggal di dalam tubuhnya. Bakteri TBC dapat berkembang menjadi aktif jika daya tahan tubuh penderita melemah. Namun, penderita TBC laten ini tidak menularkan bakteri penyebab TBC ke orang lain.
Meski TBC dikategorikan sebagai penyakit menular, penularan penyakit ini tidak secepat pilek dan flu. Namun, ada beberapa kelompok yang berisiko tinggi tertular TBC, yaitu:
Jika Anda memiliki faktor risiko atau mengalami gejala yang mengarah pada TBC, sebaiknya jangan menunda untuk memeriksakan diri. Pemeriksaan dan penanganan sejak dini dapat membantu mencegah penyakit menjadi lebih parah serta mengurangi risiko penularan kepada orang lain.
Anda bisa menggunakan layanan Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER untuk mendapatkan informasi dan saran medis yang tepat dari dokter. Jika diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, Anda juga dapat membuat janji temu dengan dokter melalui Buat Janji, agar mendapatkan penanganan secara langsung di fasilitas kesehatan.