Berita Kesehatan
Virus Corona Bisa Hidup Hingga 9 Hari di Benda Mati
Rabu, 26 Feb 2020 16:54:09
Peneliti menyebut virus corona bisa bertahan 5 menit hingga 9 hari ketika menempel di benda mati. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap virus corona SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndome). Virus bisa bertahan selama itu jika benda-benda tersebut tidak didisinfektan.

Sehingga sangat mungkin orang tertular virus corona ketika menyentuh permukaan yang sudah terkontaminasi, "lalu menyentuh mulut, hidung, atau mungkin mata mereka," jelas badan kesehatan AS (Centers for Disease Control and Prevention/ CDC).

Hal ini diungkap terkait dengan kekhawatiran yang muncul di China terkait berapa lama virus corona Covid-19 bisa bertahan hidup ketika menempel di benda mati. Kekhawatiran ini bahkan sampai membuat bank sentral China melakukan pembersihan intensif (deep cleaning) dan menghancurkan uang-uang yang beredar di China. Sebab, uang adalah benda yang paling sering berpindah tangan.


Selain itu, pemerintah Indonesia pun sempat membuat pembatasan pengiriman barang dan impor dari China dan Hong Kong untuk mencegah penyebaran virus corona.

Meski demikian, sebenarnya virus itu bakal lebih mudah menyebar antar manusia lewat kontak langsung. Selain itu penularan juga lebih mudah terjadi lewat butiran pernapasan yang menyebar lewat batuk dan bersin. Sehingga butiran ini bisa mendarat di mulut atau hidung orang terdekat.

Hingga saat ini, belum ada penelitian yang spesifik meneliti ketahanan virus corona Covid-19 untuk bisa bertahan hidup ketika menempel di suatu benda dan berpotensi menginfeksi manusia. Tapi sejumlah peneliti sebelumnya telah melakukan penelitian pada virus corona SARS dan MERS.

"Saya akan merujuk pada data dari virus corona SARS, yang paling mirip dengan novel corona virus (Covid-19) [...] SARS bisa bertahan di benda mati kurang dari lima menit hingga sembilan hari," jelas Dr. Charles Chiu, profesor penyakit menular dari Universitas California, San Francisco, seperti dilansir CNN.

Tak cuma corona, CDC juga mengungkap kalau virus flu bisa bertahan di permukaan benda tertentu selama 48 jam. Virus ini berpotensi menginfeksi seseorang jika tak dibersihkan dengan disinfektan.

Namun, menurutnya hal ini sulit untuk dijadikan patokan untuk mengukur ketahanan hidup virus corona yang baru. Sebab, keduanya punya beberapa perbedaan seperti urutan DNA, cara percobaan, dan lingkungan eksperimen. Sehingga, menurutnya perlu lebih banyak penelitian untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Untuk mencegah terjadinya infeksi kepada manusia, penelitian itu menyebut membersihkan permukaan dengan disinfektan bisa efektif menonaktifkan virus tersebut.

Ia menyarankan campuran pembersih dengan campuran 62-71 persen ethanol, 0,5 persen ethanol peroxida atau 0,1 persen sodium hypoclorite. Pilihan lain, membersihkan dengan pemutih selama satu menit.

Virus corona adalah sebutan untuk beragam virus yang biasanya menjangkiti hewan. Virus-virus ini disebut zoonotic karena bisa menular dari hewan ke manusia. Saat ini belum diketahui pasti hewan yang menyebabkan wabah virus corona di Wuhan, China.

Meski demikian beredar dugaan kalau virus ini berasal dari kelelawar lantaran virus tersebut memiliki kesamaan urutan genetik dengan kelelawar. Peneliti juga menyebut kemungkinan ular dan trenggiling ikut terlibat menjadi inang penginfeksi virus tersebut.


Sebelumnya, MERS juga diduga ditularkan lewat unta. Karena, berdasarkan penyusuran orang-orang yang terinfeksi virus MERS sebelumnya sempat berinteraksi dengan unta. Selain itu, peneliti juga menduga musang menjadi perantara virus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome).

Kedua virus ini ditemukan mampu bertahan di permukaan benda selama 9 hari jika tidak didinsfektan. Hal ini berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dari jurnal Infeksi Rumah Sakit (The Journal of Hospital Infection), awal bulan ini.

Meski SARS, MERS, dan Covid-19 punya kemiripan DNA, tapi ketiganya sungguh berbeda. Menurut Badan Kesehatan Dunia WHO, Covid-19 tidak terlalu mematikan seperti SARS dan MERS.

Menurut Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, menyebut hanya sebagian kecil penderita corona yang akhirnya tewas.

"Lebih dari 80 persen pasien punya penyakit ringan dan akan sembuh. Sebanyak 14 persen kasus, virus menyebabkan penyakit parah termasuk pneumonia dan sesak napas. Sementara 5 persen pasien punya pengaruh sangat parah sehingga menyebabkan kegagalan pernapasan, syok septik, dan kegagalan multiorgan," tuturnya.

"Berdasarkan kasus yang dilaporkan, virus ini berakibat fatal terhadap 2 persen pasien dan risiko kematian makin tinggi ketika pasien semakin tua. Kami relatif jarang menemukan kasus terjadi pada anak-anak. Penelitian dilakukan untuk menemukan sebabnya."