
Pernahkah Anda sesak napas saat merasa cemas? Kondisi ini utamanya terjadi ketika dibelenggu perasaan khawatir secara berlebihan.
Nyatanya, sesak napas merupakan salah satu gejala umum kecemasan. Kondisi kesulitan bernapas tersebut juga bisa menyebabkan individu semakin gelisah, sehingga kian membuat perasaan tidak keruan.
Lantas, mengapa perasaan cemas berlebihan bisa bikin sesak napas? Berikut penjelasannya menurut medis.
Ketika merasa cemas, tubuh akan bereaksi dengan respons fight-or-flight. Disampaikan dr. Reza Fahlevi, mekanisme respons tubuh saat menghadapi stres tersebut menyebabkan kelenjar adrenal meningkatkan produksi hormon adrenalin dan hormon stres kortisol.
Ketika hormon adrenalin dan kortisol diproduksi secara masif, denyut jantung ikut meningkat. Hal ini karena organ tersebut memompa darah ke seluruh tubuh secara lebih cepat.
Artikel Lainnya: Risiko Mengkonsumsi Alkohol Terhadap Gangguan Kecemasan
Pada saat bersamaan, respons alami tubuh juga menghasilkan keringat dingin. Tidak hanya itu, cemas juga menyebabkan laju napas meningkat.
“Karena itu, dada jadi terasa sesak saat cemas,” papar dr. Reza. Hal inilah yang membuat munculnya gejala sesak napas.
Sesak napas merupakan salah satu gejala yang mungkin dialami oleh individu yang dirundung kecemasan.
Meski begitu, tidak semua orang yang merasa cemas mengalami kesulitan bernapas. Kondisi ini juga bisa mengindikasikan gangguan medis lainnya.
Jika Anda mencurigai sesak napas yang dialami dipicu oleh kecemasan, terdapat sejumlah karakteristik yang dapat dikenali.
Berdasarkan studi yang dimuat StatPearls, sesak napas karena cemas biasanya disertai dengan sederet gejala berikut:
Artikel Lainnya: Postpartum Anxiety, Gangguan Kecemasan Pasca Melahirkan
Sesak napas biasanya juga digunakan dokter untuk mendiagnosis panic attack alias serangan panik.
Kondisi tersebut menimbulkan perasaan gelisah maupun takut berlebihan yang datang mendadak tanpa sebab jelas.
Segeralah berkonsultasi dengan profesional seperti psikolog ataupun psikiater, bila Anda mengalami sesak napas dan mencurigai kondisi tersebut dipicu oleh perasaan cemas maupun panic attack.
Biasanya, psikolog akan merekomendasikan beberapa metode relaksasi maupun latihan pernapasan.
Dalam beberapa kasus, pasien mungkin pula diresepkan obat oleh psikiater, hal ini untuk membantu mengelola gejalanya. Obat untuk pertolongan cemas dan sesak napas yang dimaksud, antara lain:
Selain obat, pasien juga mungkin memperoleh sejumlah terapi, seperti terapi perilaku kognitif maupun terapi psikodinamika.
Terapi perilaku kognitif alias cognitive behavioral therapy (CBT) bertujuan untuk membantu individu mengubah cara berpikir dan berperilaku ketika menghadapi situasi yang memicu kecemasan.
Sementara, terapi psikodinamika merupakan terapi wicara mendalam dengan tujuan membantu individu memahami kekuatan bawah sadar yang berperan dalam pikiran, perilaku, dan emosinya.