Berita Kesehatan
Kata Dokter: Langkah Pengobatan ISPA yang Tepat
Sabtu, 11 Apr 2026 11:14:55
Pengobatan ISPA bisa kamu lakukan dengan konsumsi obat-obatan yang dapat membantu meringankan gejalanya, seperti obat batuk, ekspektoran, hingga vitamin C.

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan gangguan pernapasan yang dapat memengaruhi sistem pernapasan bagian atas, mulai dari sinus dan berakhir di pita suara.

Penyebab utama dari penyakit ini adalah infeksi virus dan bakteri. Umumnya, gejalanya dapat mereda dengan sendirinya dalam beberapa hari.

Meski begitu, penyakit ini dapat menjadi suatu kondisi yang berbahaya untuk beberapa kelompok, seperti anak-anak, orangtua, dan mereka dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. 

Maka dari itu, perlu pengobatan dan penanganan yang tepat untuk mengatasinya segera. Lantas, bagaimana langkah tepat mengobati ISPA dan obat apa saja yang bisa dikonsumsi untuk meredakan gejala? Simak informasi selengkapnya berikut ini!

Apa Itu ISPA dan Cara Mengobatinya?

ISPA adalah salah satu penyakit yang paling umum dan biasanya menyerang hidung atau tenggorokan. Umumnya pengidap ISPA bisa pulih dengan sendirinya, tanpa perawatan medis. 

Namun pada beberapa kasus, ISPA bisa dialami hingga 3 minggu dan memicu komplikasi. Sehingga pengidap ISPA pada akhirnya membutuhkan perawatan medis. 

“Untuk infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh infeksi virus umumnya tidak perlu diobati, karena biasanya bisa sembuh sendiri tanpa pengobatan,” kata dr. Narjas Syam, mengutip dari kanal YouTube Halodoc.

Sebagian besar pengobatan ISPA berfokus untuk menghilangkan gejala. Kamu bisa menggunakan beberapa obat berikut ini untuk meredakan gejalanya atau memperpendek durasi gejala:

  • Obat batuk.
  • Ekspektoran.
  • Vitamin C.
  • Zinc.

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin juga merekomendasikan perawatan lain, misalnya:

  • Dekongestan hidung, untuk membantu mengurangi gejala seperti batuk dan hidung tersumbat. Obat ini juga dapat kamu kombinasikan dengan antihistamin untuk membantu meredakan gejala.
  • Menghirup uap panas dan berkumur dengan larutan garam, merupakan cara aman untuk meredakan gejala ISPA. 
  • Analgesik, seperti asetaminofen dan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dapat membantu mengurangi demam dan nyeri. 

Lantas, apakah penggunaan antibiotik berpengaruh pada perbaikan kondisi ISPA? 

Seringkali, penyebab ISPA adalah infeksi virus. Tapi nyatanya, virus tidak merespons antibiotik.

Namun jika kamu mengalami infeksi bakteri, seperti radang tenggorokan, kamu dapat minum antibiotik yang dokter resepkan. Biasanya, dokter akan meresepkan penislin atau amoksisilin untuk meredakan radang tenggorokan.

Nah, terkait dengan penggunaan obat batuk untuk pengobatan ISPA, kamu bisa mencoba membaca artikel berikut ini untuk mengetahui rekomendasinya:

Jenis-Jenis ISPA dan Gejalanya

Ada beberapa jenis infeksi saluran pernapasan atas akut atau ISPA yang umum terjadi, di antaranya:

  • Rhinitis. Flu biasa atau rhinitis adalah peradangan pada lapisan rongga hidung. Rinitis pun terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu rinitis alergi (dipicu alergen) dan rinitis non-alergi (dipicu virus). 
  • Faringitis. Terjadi karena peradangan di bagian belakang tenggorokan, atau faring. Kondisi ini juga dikenal sebagai sakit tenggorokan, yang penyebabnya adalah virus.
  • Radang amandel. Terjadi ketika amandel di bagian belakang tenggorokan menjadi merah, bengkak, dan sakit. Penyebab radang amandel adalah infeksi virus atau bakteri.
  • Laringitis. Peradangan pada laring atau kotak suara, organ yang menghasilkan suara. Penyebab laringitis adalah infeksi virus atau bakteri, tapi paling sering oleh virus.

Nah, apabila mengalami ISPA, biasanya kamu akan menjalani beberapa pemeriksaan. Simak penjelasannya pada artikel berikut ini: “3 Jenis Pemeriksaan untuk Diagnosis ISPA”.

Sementara itu, gejala khas dari ISPA meliputi:

  • Batuk.
  • Pilek.
  • Sakit tenggorokan.
  • Hidung tersumbat.
  • Sakit kepala.
  • Demam.
  • Tekanan di wajah.
  • Bersin. 
  • Kelelahan.

Gejala seringkali muncul dalam 3 hari setelah terpapar virus atau bakteri. Biasanya berlangsung antara 7 hingga 10 hari. Terkadang, gejala bisa bertahan hingga 3 minggu.