Berita Kesehatan
Tuli Mendadak: Apa dan Bagaimana Penanganannya?
Sabtu, 03 Mar 2018 13:57:37

TULI MENDADAK adalah ketulian yang terjadi secara tiba-tiba atau ketulian yang bersifat progresif dalam beberapa jam (24-48 jam) atau beberapa hari (5-7 hari). Kebanyakan bersifat unilateral dan merupakan tuli sensorineural yang dapat terjadi secara total atau parsial.

Penyebabnya tidak diketahui, dapat disertai tinitus (telinga berdenging) dan vertigo. Tuli mendadak merupakan suatu kedaruratan bidang THT sehingga memerlukan tindakan segera untuk menyelamatkan fungsi pendengaran.

Tuli mendadak pertama kali dikemukakan oleh De Kleyn pada tahun 1944 dimana sebagai penyebab diduga akibat kelainan pada batang otak atau defisiensi vitamin. Sejak saat itu banyak dilakukan penelitian-penelitian untuk mencari faktor etiologi maupun pengobatannya. Tuli mendadak dapat terjadi pada penyakit seperti neuroma akustik, multipel sklerosis, keracunan obat dan sebagainya tetapi kebanyakan kasus tidak diketahui etiologinya atau idiopatik. Kebanyakan para ahli beranggapan bahwa penyebab ketulian ini disebabkan karena infeksi virus, insufisiensi vaskuler dan ruptur pada membran labirin.


Insiden tuli mendadak di Amerika diperkirakan 5-20 kasus per 100.000 orang per tahun. Beberapa penelitian menunjukkan kejadian tuli mendadak unilateral tanpa perbedaan antara  telinga kanan dan kiri, tuli mendadak bilateral hanya 1-2% kasus. Tuli mendadak dapat terjadi pada semua umur, tersering pada umur 40-50 tahun.  Shaia dan Sheehy melaporkan 1220 kasus tuli mendadak terbanyak pada usia 40-60 tahun. Ketulian yang terjadi biasanya unilateral, ketulian bilateral biasanya 4-17%. Jaffe melaporkan dari 143 kasus tuli mendadak, didapatkan 139 kasus dengan tuli unilateral dan empat kasus lainnya bilateral.


DIAGNOSIS

Untuk bisa mendiagnosis penderita dengan tuli mendadak perlu dilakukan evaluasi yang lengkap mengenai riwayat penyakit dan hal-hal yang berhubungan dengan penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan pendengaran, pemeriksaan vestibuler, radiologi dan laboratorium sehingga dapat diketahui berbagai kelainan yang mungkin berperan sebagai faktor predisposisi.

Anamnesis

Pada anamnesis biasanya penderita secara spontan akan mengungkapkan keluhan berupa pendengaran yang sebelumnya normal secara tiba-tiba hilang atau berkurang dan biasanya unilateral. Umumnya penderita dapat mengetahui dengan pasti kapan saatnya mulai timbul ketulian. Keluhan lain yang menyertai tuli mendadak ini adalah tinitus, 70% penderita tuli mendadak mengeluh adanya tinitus disertai rasa penuh pada telinga. Keluhan tinitus ini biasanya suara gemuruh dan akan menghilang dalam waktu satu bulan. Vertigo, 40-50% penderita dengan tuli mendadak disertai vertigo yang ringan atau sementara dan akan mereda dalam waktu 4-7 hari, tetapi dapat juga menetap hingga enam minggu. Selain hal tersebut diatas, dalam anamnesa perlu ditanyakan juga antara lain riwayat trauma kepala, penyakit infeksi traktus respiratorius bagian atas, diabetes melitus, pemakaian obat-obatan ototoksik atau kontak dengan bahan kimia tertentu, riwayat operasi sebelumnya.


Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik yang lengkap termasuk pemeriksaan otoskopi telinga luar didapatkan liang telinga dan gendang telinga yang normal.

Pemeriksaan penunjang

Hasil pemeriksaan pendengaran akan menunjukkan tuli saraf dari ringan hingga tuli total. Pemeriksaan audiologi lainnya terutama untuk mengetahui letak lesi dari kelainan ini, seperti SISI test, tone decay, speech discrimination test, reflek akustik, otoacoustic emissions (OAE), dan auditory brainstem response (ABR). Sedangkan pemeriksaan timpanometri menunjukkan nilai normal. Pemeriksaan OAE menggambarkan kondisi koklea melalui aktivitas mekanik sel rambut luar atau outer hair cell. Koklea yang sehat akan dapat menghasilkan vibrasi internal tanpa stimulus suara dari luar, apabila struktur rambut mengalami kerusakan, maka OAE tidak dapat ditimbulkan. Pada pemeriksaan vestibuler, dilakukan bila terdapat keluhan vertigo, dengan test kalori.


Kelainan ini bervariasi dari yang ringan sampai tidak terdapat reaksi sama sekali. Timbulnya tuli pada iskemia koklea dapat bersifat mendadak. Kadang-kadang bersifat sementara  atau berulang dalam serangan, tetapi biasanya menetap. Tuli yang bersifat sementara biasanya tidak berat dan tidak berlangsung lama. Kemungkinan sebagai pegangan harus diingat bahwa perubahan yang menetap akan terjadi sangat cepat. Tuli dapat unilateral atau bilateral, dapat disertai dengan tinitus dan vertigo. Pada infeksi virus, timbulnya tuli mendadak biasanya pada satu telinga, dapat disertai dengan tinitus dan vertigo. Kemungkinan ada gejala dan tanda penyakit virus seperti parotis, varisela, variola atau pada anamnesis baru sembuh dari penyakit  virus tersebut. Pada pemeriksaan klinis tidak terdapat kelainan telinga.

Pada pemeriksaan laboratorium, berupa pemeriksaan darah lengkap, koagulasi, serologi dan metabolik dengan tujuan untuk mencari petunjuk kearah faktor penyebab. Pada pemeriksaan radiologi, berupa pemeriksaan terhadap tulang temporal untuk melihat kemungkinan misalnya adanya neuroma akustik.


PENATALAKSANAAN

Tirah baring sempurna (total bed rest) istirahat fisik dan mental selama dua minggu untuk menghilangkan atau mengurangi stres yang besar pengaruhnya pada keadaan kegagalan neurovaskular.

Terapi medikamentosa dikelompokkan berdasarkan mekanisme kerjanya yaitu (a). Vasodilator: histamin, asam nikotinat, papaverin, prokain, niasin dan karbogen. (b). Rheologi: dekstran, pentoksifilin, heparin, warfarin. (c). Antiinflamasi: Kortikosteroid. (d). Antiviral: asiklovir, amantadin, famsiklovir, valasiklovir.

Beberapa pengobatan telah dicoba diberikan antara lain berupa dekstran 10% berat molekul rendah sebanyak 500 ml diberikan intravenous selama empat jam setiap 12 jam sekali selama tiga hari. Tujuan pemberian ini mencoba untk menurunkan viskositas darah dan menghilangkan endapan darah sehingga memperbaiki perfusi darah.


Pemberian streoid, heparin dan papaverin direkomendasikan untuk meningkatkan oksigenasi ke daerah yang mengalami kerusakan. Pemberian steroid berupa prednison juga mempunyai efek antiinflamasi terhadap organ Corti dan mikrovaskuler, selain itu juga steroid menghambat sintesis mediator inflamasi dan sitokin, diberikan dengan dosis awal 60 mg selama empat hari dan diturunkan secara bertahap 10 mg setiap tiga hari. Prednison mempunyai efek yang menguntungkan bila diberikan kurang dari 10 hari setelah timbulnya gangguan pendengaran. Terapi kortikosteroid dapat dengan deksametason 1,5-9 mg per hari dibagi dalam 2-4 dosis, efektif untuk ketulian derajad ringan sampai sedang, tapi tidak efektif untuk ketulian diatas 90 dB. Heparin diberikan sebanyak 5000-10000 unit subkutan setiap 12 jam dengan maksud untuk mengurangi hiperkoagulasi. Papaverin hidroklorida diberikan peroral dua kali sehari, mempunyai efek vasodilatasi dan meningkatkan aliran darah ke koklea.

Antivirus mungkin berperan penting jika virus sebagai etiologi pasti telah diketahui. Mekanisme antivirus oral ini adalah mencegah multiplikasi virus.9 Famsiklovir dan valasiklovir merupakan generasi baru antivirus yang memiliki struktur serta aktivitas mirip asiklovir dengan dosis pemberian tiga kali sehari.

Inhalasi karbogen menggunakan campuran gas CO2 5% dan O2 95% dengan kecepatan lima liter per menit selama 30 menit empat kali sehari selama empat hari menyebabkan vasodilatasi pada sistem pembuluh darah susunan saraf pusat dan juga pembuluh darah koklea.

Saat ini telah dikenal terapi oksigen bertekanan tinggi dengan tehnik pemberian oksigen hiperbarik adalah dengan memasukkan pasien ke dalam suatu ruangan (chamber) yang bertekanan dua ATA. Oksigen hiperbarik diberikan dengan maksud meningkatkan suplai oksigen ke koklea untuk memperbaiki keadaan hipoksia. Terapi ini juga untuk memperbaiki hemoreologi, menambah elastisitas eritrosit dan menurunkan viskositas darah. Hasilnya lebih baik dibanding bila diberikan vasodilator. Hiperbarik akan memberikan perbaikan pendengaran secara signifikan antara 2-6 minggu setelah timbulnya ketulian mendadak, dilaporkan 5% penderita mengalami perbaikan pendengaran sebesar 20 dB. Terapi oksigen hiperbarik tidak akan memberikan keuntungan terhadap gangguan pendengaran dan keluhan tinitus pada ketulian yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan.

Penatalaksanaan tuli mendadak secara umumnya yaitu  tirah baring terutama bagi yang baru terjadi dan  mengalami vertigo, vasodilator dengan memberikan  betahistin 3 x 8 mg/hr, kortikosteroid  dengan sediaan prednisone 40-60 mg/hari, dosis tunggal pada pagi hari selama satu minggu kemudian dilakukan tapering off. Selain itu juga diberikan  vitamin neurotropik B1 1 x 100mg/hari, terapi terhadap vertigo bila ada vertigo dan koreksi penyakit dasar.

Bila gangguan pendengaran tidak sembuh dengan pengobatan di atas, dapat dipertimbangkan pemasangan alat bantu dengar (hearing aid). Apabila dengan alat bantu dengar juga masih belum dapat berkomunikasi secara adekuat perlu dilakukan psikoterapi dengan tujuan agar pasien dapat menerima keadaan. Rehabilitasi pendengaran agar dengan sisa pendengaran yang ada dapat digunakan secara maksimal bila memakai alat bantu dengar dan rehabilitasi suara agar dapat mengendalikan volume, nada dan intonasi oleh karena pendengarannya tidak cukup untuk mengontrol hal tersebut.


RINGKASAN

Tuli mendadak merupakan salah satu kedaruratan otologi yang memerlukan penanganan dengan cepat dan tepat untuk menyelamatkan pendengaran. Batasan tuli mendadak adalah tuli sensorineural dengan penurunan minimal 30 dB pada tiga frekuensi yang berurutan dalam kurun waktu 72 jam.

Tirah baring atau istirahat fisik dan mental selama dua minggu disertai pemberian terapi medikamentosa akan memberikan kesembuhan yang lebih baik.